BORIS IVANOVITCH SHAMRAYEFF
Saya seorang petani, bapak saya seorang petani, dan kakek-buyut saya juga seorang petani. Anda seorang bangsawan, nenek Anda seorang bangsawan. Garis keturunan Anda adalah pangeran Tartar. Ini adalah masalah penderitaan dan perbudakan melawan sejarah kekejaman dan penindasan. Saya tak akan menghitung hari ini, hanya memperhitungkan hari kemarin dan hari yang akan datang. Anda selalu bertindak kejam dan kasar, itu tak usah diragukan lagi. Saya sangat mengetahuinya. Saya membuang jauh-jauh semua itu. Bahkan penderitaan saya sendiri tidak saya libatkan. Semua itu tidak akan sebanding kalaupun harus disandingkan. Anda dan saya tak cukup berarti apa-apa. Ini adalah kasta melawan kasta. Saya menggabungkan diri dalam partai revolusioner, betul ! Anda menamakan saya agen mereka, ya! Meskipun saya hanya tahu sedikit dengan apa yang mereka cita-citakan untuk negara ini, saya tidak peduli. Saya hanya mengerti bahwa pada kelompok tempat saya bergabung adalah mewakili segenap perjuangan dan gelora hati saya. Saya adalah alat kehendak mereka. Saya menuruti mereka karena saya merasa berhak untuk mewujudkan dendam yang mengental di darah saya.
ALEXIS ALEXANDROVITCH
Ya, ya. Kau seorang fanatik!
••

"Lawan Catur", GSSTF Unpad 1997
Dialog di atas saya petik dari naskah The Game of Chess, yang oleh W.S. Rendra diterjemahkan dan diberi judul Lawan Catur. Pada terjemahan W.S. Rendra itu memang tidak ditemukan nama tokoh Boris Ivanovitch Shamrayeff atau Alexis Alexandrovitch, karena nama-nama tokohnya diubah: Boris Ivanovitch Shamrayeff menjadi Oscar Yakob, sedangkan Alexis Alexandrovitch menjadi Samuel Glaspel. Judul Lawan Catur dengan tokoh Oscar Yakob dan Samuel Glaspel inilah yang kemudian lebih dikenal luas di Indonesia. (lagi…)