Film


Sekadar Pengantar

cover-catatan-proses.jpg

Film Laut yang Tenggelam merupakan film dokumenter panjang (feature lenght documentary). Durasi keseluruhan film ini 94 menit. Film ini merupakan produksi Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI) tahun 2006; hasil kerjasana KoPI dengan Kantor Bantuan Hukum (KBH) Purwokerto dan Masyarakat Ujung Alang, Kampung Laut, Sagara Anakan. KBH Purwokerto terlibat dalam pembuatan film ini, terutama dalam kapasitasnya sebagai lembaga yang pada saat itu melakukan pendampingan dan pengorganisasian perempuan di Kelompok Balai Perempuan Ujung Alang, Kampung Laut.

Lokasi pembuatan film ini di wilayah Sagara Anakan dan sekitarnya, tepatnya di Desa Ujung Alang, Kampung Laut, Cilacap dan di Pulau Nusakambangan. Film ini mulai dibuat sekitar pertengahan tahun 2005, dan secara keseluruhan selesai pada bulan Oktober 2006. (lagi…)

Laut yang Tenggelam (The Drown Sea)
Raih Awards of Excellence di YIDFF 2007

awards-of-excellence-yidff-2007-3.pngFilm Laut yang Tenggelam (The Drown Sea) yang disutradarai Yuslam Fikri Ansari (Yufik), produksi Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI) Bandung bekerja sama dengan Kantor Bantuan Hukum (KBH) Purwokerto, dan Masyarakat Ujung Alang, Kampung Laut Sagara Anakan, meraih Awards of Excellence untuk kategori New Asian Currents di ajang Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF) 2007. Sepanjang keikutsertaan film dokumenter Indonesia di ajang YIDFF, ini merupakan film dokumenter Indonesia pertama yang mendapatkan penghargaan.

Penghargaan utama (Ogawa Shinsuke Prize) untuk kategori New Asian Currents diraih oleh film dari Cina, Bingai, yang disutradarai Feng Yan. Selain mendapat penghargaan utama, Bingai pun meraih Community Cinema Award. (lagi…)

Laut yang Tenggelam di YIDFF 2007

cover-laut-yang-tenggelam-01.jpgSutradara Yuslam Fikri Ansari (Yufik) — Produser Moh Syafari Firdaus — Co-produser Hapsari Puspitaningsih — Produser Pelaksana Moh Syafari Firdaus, Hapsari Puspitaningnih – Riset Siti Fikriyah, Dhini Yulietta Sari — Kameramen Suherman, Yufik — Editor Moh Syafari Firdaus, Yufik

Produksi 2006, Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI) bekerja sama dengan Kantor Bantuan Hukum (KBH) Purwokerto dan Masyarakat Ujung Alang, Kampung Laut, Sagara Anakan.

Durasi 94 menit — Bahasa Indonesia, Jawa, Sunda — Subtitel Indonesia, Inggris

²²²

Film Laut yang Tenggelam (The Drown Sea) terpilih sebagai salah satu film dokumenter (dari Indonesia) yang akan diputar dan turut berkompetisi di Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF) 2007, untuk kategori “New Asian Currents”.

Pada YIDFF 2007, ada dua film dokumenter dari Indonesia yang turut berkompetisi di ajang festival itu. Selain Laut yang Tenggelam (The Drown Sea), satu film lainnya adalah Bermain di Antara Gajah-Gajah (Playing Between Elephans) yang disutradrai oleh Aryo Danusiri (2007).

YIDFF 2007 akan berlangsung di Kota Yamagata, Jepang, pada 4―11 Oktober 2007 (untuk lebih lengkapnya, bisa ditengok di http://www.yidff.jp) (lagi…)

Satir dan Ironi Aristrokasi ·)

Oleh Moh. Syafari Firdaus

cover-ridicule-01.jpgKetika membicarakan Montesquieu, di dalam sebuah esainya Franz Neumann menulis demikian: “Baik Louis XV maupun Louis XVI tidak mungkin dapat membangkitkan harapan bahwa monarki akan sanggup dan mempunyai keberanian untuk menanggalkan segala kearistrokatannya, menyingkirkan semua hak istimewanya, untuk menciptakan kebebasan ekonomi, meletakkan dasar-dasar keuangan yang kuat, menyusun suatu reorganisasi administrasi, membersihkan segala benalu, dan meleburkan dirinya ke dalam pelukan masyarakat.”

Jika menyimak film Ridicule (garapan sutradara Patrice Leconte, 1997), kiranya kita akan bisa sedikit mendapat gambaran mengapa Neumann sampai bisa mengemukakan pendapat semacam itu. Dengan background historis masa pemerintahan Louis XVI, Ridicule, yang secara harfiah kurang lebih berarti “(ke)konyol(an)”, tampaknya memang ingin mengedepankan bagaimana kekonyolan-kekonyolan yang dilakukan kalangan Istana Versailles, terutama yang menghinggapi para aristrokatnya: bahwa, adalah sangat mungkin bukan (hanya) karena ada begitu banyak penyelewengan dan kelemahan yang telah menyebabkan pemerintahan Louis XVI bobrok, namun segala kebobrokkannya itu justru menjadi lebih mungkin terjadi karena mereka terbiasa melakukan kekonyolan-kekonyolan. (lagi…)

Hibrida Fiksi dan Dokumenter ·)

Oleh Moh. Syafari Fidaus

american-splendor01.jpgFilm yang diadaptasi dari komik, tentulah bukan barang baru. Sederet panjang daftar film semacam ini akan bisa dengan cukup mudah kita temukan.

Komik yang produksi DC dan Marvel―terutama yang mengisahkan petualangan tokoh-tokoh supehero ―menjadi penyumbang terbesar untuk kategori film semacam ini. Sekadar untuk menyebut beberapa film komik yang cukup populer: Superman, Batman, (komik produksi DC); Spiderman, X-Men, Hulk, Blade, Fantastic Four, Ghost Rider (komik produksi Marvel). Film-film tersebut tidak sedikit yang mencatatkan box office. Untuk kategori film komik, Spiderman (Sam Raimi, 2002), sampai saat ini masih memegang catatan rekor box office tertinggi: meraup keuntungan lebih dari $ 820 juta US (Spiderman 2 memperoleh sekitar $ 780 juta US). Maka, tidaklah mengherankan jika film-film itu terus saja dibuat sequelnya[1].  (lagi…)

Halaman Berikutnya »