Teater


BORIS IVANOVITCH SHAMRAYEFF
Saya seorang petani, bapak saya seorang petani, dan kakek-buyut saya juga seorang petani. Anda seorang bangsawan, nenek Anda seorang bangsawan. Garis keturunan Anda adalah pangeran Tartar. Ini adalah masalah penderitaan dan perbudakan melawan sejarah kekejaman dan penindasan. Saya tak akan menghitung hari ini, hanya memperhitungkan hari kemarin dan hari yang akan datang. Anda selalu bertindak kejam dan kasar, itu tak usah diragukan lagi. Saya sangat mengetahuinya. Saya membuang jauh-jauh semua itu. Bahkan penderitaan saya sendiri tidak saya libatkan. Semua itu tidak akan sebanding kalaupun harus disandingkan. Anda dan saya tak cukup berarti apa-apa. Ini adalah kasta melawan kasta. Saya menggabungkan diri dalam partai revolusioner, betul ! Anda menamakan saya agen mereka, ya! Meskipun saya hanya tahu sedikit dengan apa yang mereka cita-citakan untuk negara ini, saya tidak peduli. Saya hanya mengerti bahwa pada kelompok tempat saya bergabung adalah mewakili segenap perjuangan dan gelora hati saya. Saya adalah alat kehendak mereka. Saya menuruti mereka karena saya merasa berhak untuk mewujudkan dendam yang mengental di darah saya.

ALEXIS ALEXANDROVITCH
Ya, ya. Kau seorang fanatik!

••

"Lawan Catur", GSSTF Unpad 1997

"Lawan Catur", GSSTF Unpad 1997

Dialog di atas saya petik dari naskah The Game of Chess, yang oleh W.S. Rendra diterjemahkan dan diberi judul Lawan Catur. Pada terjemahan W.S. Rendra itu memang tidak ditemukan nama tokoh Boris Ivanovitch Shamrayeff atau Alexis Alexandrovitch, karena nama-nama tokohnya diubah: Boris Ivanovitch Shamrayeff menjadi Oscar Yakob, sedangkan Alexis Alexandrovitch menjadi Samuel Glaspel. Judul Lawan Catur dengan tokoh Oscar Yakob dan Samuel Glaspel inilah yang kemudian lebih dikenal luas di Indonesia. (lagi…)

“Teater Madani”

Oleh Moh. Syafari Firdaus

Bahwa teater Indonesia (modern) lebih cenderung menampakkan dirinya sebagai “teater tokoh”, “teater sutradara”, tak ayal lagi, memang demikian adanya. Bahwa—terlepas dari soal, dengan tradisi semacam inilah teater (modern) Indonesia dibesarkan—keberadaan “teater sutradara” semacam itu kemudian dipandang bermasalah karena sifatnya yang terlalu sentralistik, lebih didominasi oleh seorang individu (sutradara), memang demikian pula kenyataannya. Bahwa, sebagai akibat dari sifatnya yang terlalu sentralistik itu, keberlangsungan jalannya proses kerja kreatif berteater menjadi akan sangat bergantung kepada sang sutradara, tampaknya itu pun adalah konsekuensi logis yang kemudian harus dihadapinya.

Akan tetapi, bagaimanapun, keberadaan “teater sutradara” ini pada akhirnya layaknya harus pula dipandang sebagai sebuah pilihan. Bagi yang sadar dan siap dengan pilihannya itu, mungkin mereka tak akan lagi memandang segala konsekuensinya sebagai masalah. Memang akan lain halnya bagi mereka yang berpikiran, “teater sutradara” adalah bentuk teater yang otoritarian, hegemonik, dan tidak cukup memberi ruang gerak bagi kreativitas kolektif berteater yang harusnya mengedepankan kerja esambel. Bagi yang berpikiran seperti ini, memang menjadi pantas kiranya jika mereka kemudian mencoba mencari pilihan bentuk lain dalam proses kerja berteaternya. (lagi…)

Seputar Gagasan Figur Dramaturg

Oleh Moh. Syafari Firdaus

Menanggapi gagasan perlunya figur dramaturg dalam kerja teater kita sebagaimana yang tertuang dalam tulisan Fathul A Husein, Dramaturg versus Figur-Sentral Sutradara (PR, 27/12/99), ada sejumlah hal yang kiranya menarik untuk dibincangkan lebih lanjut. Paling tidak, yang tampaknya masih perlu dikedepankan adalah perihal konkretisasi atau penegasan akan peran dan posisi dramaturg itu sendiri, terutama dalam kaitannnya dengan kelaziman pola produksi (pementasan) yang umumnya dianut oleh sejumlah kelompok teater kita.

Gagasan ihwal keberadaan figur dramaturg yang awalnya dilontarkan Saini KM ini kiranya memang bukan merupakan suatu hal yang berlebihan. Di tingkat konseptual, jika menyimak paparan yang dikedepankan Fathul dalam tulisannya itu, keberadaan dramaturg tampak menempati posisi dan peran penting di dalam sebuah lingkup proses kerja kreatif berteater. Kalaupun boleh disejajarkan, seorang dramaturg mungkin setaraf sebagaimana halnya seorang editor (dalam sastra) ataupun kurator (dalam seni rupa). Ia adalah orang yang sekaligus berada di antara relasi teks/naskah, awak pentas, pementasan, serta publik teaternya. Pada konteks inilah ia hadir, dengan segala kapasitas dan kompetensi yang dimilikinya, untuk memberi sejumlah ruang kemungkinan bagi penjelajahan kreatif dan pengayaan wacana. (lagi…)