Umum


Sekadar Pengantar

cover-catatan-proses.jpg

Film Laut yang Tenggelam merupakan film dokumenter panjang (feature lenght documentary). Durasi keseluruhan film ini 94 menit. Film ini merupakan produksi Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI) tahun 2006; hasil kerjasana KoPI dengan Kantor Bantuan Hukum (KBH) Purwokerto dan Masyarakat Ujung Alang, Kampung Laut, Sagara Anakan. KBH Purwokerto terlibat dalam pembuatan film ini, terutama dalam kapasitasnya sebagai lembaga yang pada saat itu melakukan pendampingan dan pengorganisasian perempuan di Kelompok Balai Perempuan Ujung Alang, Kampung Laut.

Lokasi pembuatan film ini di wilayah Sagara Anakan dan sekitarnya, tepatnya di Desa Ujung Alang, Kampung Laut, Cilacap dan di Pulau Nusakambangan. Film ini mulai dibuat sekitar pertengahan tahun 2005, dan secara keseluruhan selesai pada bulan Oktober 2006. (lagi…)

Karya Seni sebagai Korban

Oleh Moh. Syafari Firdaus

Barangkali memang tidak terlalu berlebihan kalaupun kemudian ada yang beranggapan bahwa karya seni harus selalu siap untuk berhadapan dengan semangat zaman yang tak kenal ampun. Sebagai sebuah entitas yang menempatkan “realitas” (dalam konteks yang sangat luas; universe) sebagai pijakan dan rujukan gagasannya, karya seni mencoba untuk mencermati, mencerap, menerjemahkan, dan sekaligus menyikapi realitas dengan segala gejala dan fenomenanya sebagai sebuah “dunia baru”, dalam berbagai bentuk dan artikulasi, yang pada akhirnya ia akan (di)kembali(kan) pada realitas itu sendiri. Pada titik inilah karya seni menjadi sangat mungkin untuk berhadapan dengan semangat zaman yang tengah bergerak dalam realitas yang dimasukinya.

Kendatipun karya seni berkaitan erat dengan realitas, namun apa yang tertuang di dalam karya seni tidaklah identik dengan realitas itu sendiri; karya seni bukanlah pencerminan (mimesis) dari realitas—sebagaimana pemahaman Plato—yang kemudian bisa dipandang sebagai realitas yang sebenar(-benar)nya. Ketika suatu realitas sudah dipindahkan menjadi sebuah bentuk karya seni, maka pada saat itu ia sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang sama sekali lain. Hal ini bisa dimungkinkan karena karya seni selalu mem-berikan peluang yang sangat lebar untuk menghadirkan “fiksionalisasi” (pengurangan dan/atau penambahan sesuatu pada realitas yang menjadi objek, misalnya), yang muncul bersamaan dengan adanya partisipasi dan peran serta “imajinasi” dan “fantasi” dari si senimannya. (lagi…)

Relasi Komunikasi dan Kualitas Karya Seni

Oleh Moh. Syafari Firdaus

Adalah sungguh beralasan jika ada yang berpandangan, keberadaan karya seni harus juga diperhitungkan dalam relevansinya dengan jaringan eksternal, “struktur” yang berdiri di luar karya seni itu sen-diri. Karya seni adalah semacam “tindak bahasa” yang muncul dari sutau kultur tententu sebagai upaya untuk menyikapi realitas yang terbentang di hadapannya.

Pada titik ini, karya seni tidak lain adalah tindak pengucapan (semacam parole) dari seorang individu yang mencoba untuk membangun komunikasi yang khas di dalam suatu komunitas lewat representasi model tanda semiotis, yang referensnya sendiri, secara langsung atau tidak, mengacu dan menunjuk pada realitas, universe. Ini yang kemudian mendasari, karya seni menjadi sangat mungkin untuk berhadapan dengan konteks eksternalnya—jaringan total fenomena sosial. Sebab, karya seni, sebagaimana halnya parole, pada akhirnya akan menjadi “fakta sosial” yang seterusnya akan berinteraksi dengan langue dalam lingkup yang lebih luas, dan turut ambil bagian dalam proses perkembangan dinamika (struktur) sosial-masyarakatnya. (lagi…)