Drama


SWING! ·)

Naskah Lakon Moh. Syafari Firdaus

Para tokoh :

1. Didi; 2. Gogo; 3. Pozzo.

ll

Panggung berisikan sebentuk guillotine.

Adegan 1

Seseorang, mungkin ia adalah seorang terhukum, dengan tubuh dan tangan terikat muncul memasuki panggung; berjalan menuju guillotine itu berdiri. Disusul kemudian dengan seseorang yang menampakkan dirinya sebagai algojo dan seorang pendeta. Ada ritual kecil yang kemudian mereka lakukan sesaat setelah mereka tiba di dekat guillotine itu. Tampak benar jika mereka sudah terlalu biasa melakukannya.

Dengan caranya masing-masing mereka mempersiapkan diri.

Pendeta : [Berulang-ulang] In nomine Patris, et vilii, et spriritus sanctus. Amen.[1]
Terhukum : Tidak bagiku. Aku memang telah menemukan diriku dalam keadaan seperti ini, bahkan ketika aku baru dilahirkan. Jauh sebelum aku berada di sini, aku memang selalu meyakini jika hidup hanyalah sekarung tomat. Sebagian busuk, sebagian harus tercecer di jalan-jalan. Seperti juga paman dari ibuku yang sehari-harinya berdagang tomat, terkadang ia sampai harus mengobral tomat-tomatnya karena ia sama sekali tidak menginginkan tomat-tomatnya itu keburu berubah menjadi saus tomat sebelum ia menjualnya. Ini persoalan harga diri karena tomat dan saus tomat adalah dua hal yang mungkin sama namun sebenarnya sungguh sangat berbeda. Tomat adalah hidupnya, hidup itu sendiri; sedang saus tomat adalah kehidupannya yang lain, kehidupan setelah tomat, kehidupan tomat yang tergiling. Ya, jadinya tidak bagiku. Aku merasa jika di sini aku semakin meyakini jika hidup adalah sebentuk keabadian yang tak pantas untuk dimiliki. Apalah artinya hidup jika tidak mati— (lagi…)

Blues untuk Ayah ·]

Naskah Lakon/Kompilasi 2 Monolog Moh. Syafari Firdaus

Sekadar Catatan:

Di dalam lakon ini, sesungguhnya boleh terjadi sejumlah peristiwa. Dari sejumlah peristiwa yang ada, satu sama lain boleh jadi tidak menampakkan persinggungannya sama sekali. Demikianlah Blues untuk Ayah: di tingkat tekstual, lakon ini hanya berusaha untuk mengumpulkan serpihan peristiwa yang di dalamnya mengandaikan ada kaitan relasi, yang dalam hal ini ditunjukkan lewat “narasi tentang ayah”. Mungkin mirip dengan kolase, meski saya sendiri lebih cenderung untuk menyebutnya sebagai usaha penyatuan dua monolog yang berbicara tentang “ayah” dalam satu panggung.  

Tokoh :

·         Seorang laki-laki bernama Aziz Manuel Lawalata

·         Seorang perempuan bernama Rina Desyani Firdaus

ll

Satu

Sett panggung ditata seperlunya.

Di sana, tokoh Aziz dan  Rina, berdiam dalam kesendiriannya masing-masing.Adegan dibuka dengan suara-suara. Riuh. Melengking-lengking. Pelan kemudian menguap lapat-lapat, dan seterusnya menggumpal di kejauhan. Yang tersisa dari kesunyiannya hanya tinggal suara detak halus ketukan jam dinding, keletak sepatu, derit geseran kursi dan meja, serta sebentuk suara tembakan. (lagi…)

Meja Makan Kita ·)

Naskah lakon Moh. Syafari Firdaus

 Tokoh           

  1. seseorang bernama Brahma atau bisa siapa saja
  2. seseorang bernama Syiwa atau bisa siapa saja
  3. seseorang bernama Wisnu atau bisa siapa saja
  4. seorang pelayan bernama Bilqis atau bisa siapa saja 

ll 

Sebuah meja makan lengkap dengan segala hidangannya yang siap santap. Ada tiga buah kursi yang melengkapi meja makan itu. Masing-masing milik Brahma, Syiwa, dan Wisnu. Di antara mereka tersimpan pula sejumlah benda atau apapun namanya, yang dipandang memiliki nilai tertentu bagi ketiga tokoh itu, yang sekaligus juga menjadi penanda bagi kondisi psiko-emosi dan karakter dari masing-masing peran yang dimainkan.

ll

Semua adegan yang berlangsung dalam lakon ini berawal dari meja makan, dan―entah apakah adegan demi adegan atau peristiwa demi peristiwa yang kemudian berlangsung itu berkorelasi dengan meja makan atau tidak―akan selalu ditarik untuk kembali ke meja makan.

ll

Adegan diawali dengan nyala lilin. Brahma, Wisnu, dan Syiwa berada dalam posisi menghadapi meja makan. Wisnu dan Syiwa tengah menikmati santapan pembukanya. Wisnu tampak menunjukkan cara makan yang begitu hati-hati, selalu ingin terlihat bersih. Di setiap kali habis menyuap, ia selalu akan menarik secarik tisue, mengelap mulutnya, untuk seterusnya membuang tisue itu ke tempat sampah yang tak jauh dari kursinya. Begitu seterusnya. Berbeda halnya dengan Syiwa yang justru tak acuh saja. Di sela menyantap hidangannya, ia hanya bersibuk sendiri menggeluti alat-alat pertukangannya: sesekali bahkan ia mengasah pisau makan miliknya, juga garpu, atau mengampelas sendok-sendok makannya itu. Sedangkan Brahma ―meski ia pun seolah-olah tengah menyantap hidangannya, dengan perlengkapan makan di tangan dan lap di pangkuan―berada dalam posisi diam di kursi meja makan itu. Brahma sama sekali tidak bergerak: mungkin ia sedang mati. (lagi…)