140 Menit yang Serba Tanggung
Oleh Moh. Syafari Firdaus
“Hindia Timur”, yang kemudian dikenal sebagai Indonesia, ternyata memang cukup menakutkan: “Seperti juga Tuan tahu, cuma satu dari tiga orang yang pergi ke sana bisa kembali hidup-hidup.” Paling tidak, itulah yang menjadi kekhawatiran Eva sehingga dia merasa perlu untuk menutup-nutupi perbuatan Hakim Adam terhadapnya, yang telah merayunya dengan ancaman, Ruprecht, kekasihnya, akan diwajibmiliterkan ke Batavia.
Demikianlah, dari wacana “tentang Indonesia” di kamar Eva pada malam ketika Hakim Adam menginginkan sesuatu dari Eva, serentetan peristiwa pun kemudian terjadi: Ruprecht datang mendobrak pintu kamar, Hakim Adam gegas kabur meloncat jendela, sempat kena gebuk kepalanya sebelum jatuh di belukar rumpun anggur, meninggalkan luka, wig kehormatan, dan jejak langkah kaki bengkoknya pada tebaran salju di sepanjang jalan. Pada peristiwa di kamar Eva itu pula, sebuah guci bersejarah milik Ny. Martha telah pecah berantakan. (lagi…)
