Kritik Teater


140 Menit yang Serba Tanggung

Oleh Moh. Syafari Firdaus

“Hindia Timur”, yang kemudian dikenal sebagai Indonesia, ternyata memang cukup menakutkan: “Seperti juga Tuan tahu, cuma satu dari tiga orang yang pergi ke sana bisa kembali hidup-hidup.” Paling tidak, itulah yang menjadi kekhawatiran Eva sehingga dia merasa perlu untuk menutup-nutupi perbuatan Hakim Adam terhadapnya, yang telah merayunya dengan ancaman, Ruprecht, kekasihnya, akan diwajibmiliterkan ke Batavia.

Demikianlah, dari wacana “tentang Indonesia” di kamar Eva pada malam ketika Hakim Adam menginginkan sesuatu dari Eva, serentetan peristiwa pun kemudian terjadi: Ruprecht datang mendobrak pintu kamar, Hakim Adam gegas kabur meloncat jendela, sempat kena gebuk kepalanya sebelum jatuh di belukar rumpun anggur, meninggalkan luka, wig kehormatan, dan jejak langkah kaki bengkoknya pada tebaran salju di sepanjang jalan. Pada peristiwa di kamar Eva itu pula, sebuah guci bersejarah milik Ny. Martha telah pecah berantakan. (lagi…)

Pertunjukkan Lima Dongeng

Oleh Moh. Syafari Firdaus

Putu Wijaya memang mengejutkan. Putu yang mengejutkan itu bukan saja tampak pada karya-karya prosanya, tapi nyaris hadir pula di setiap ruang pertunjukkannya. Setumpuk karya telah dihasilkan oleh pria kelahiran Tabanan Bali, 11 April 1944 ini, dan siapa pun rasa-rasanya akan sulit untuk bisa menandingi keproduktivitasannya dalam berkarya. Syu’bah Asa, sebagaimana yang tercetak pada sampul belakang Kroco (Pustaka Firdaus, 1995)― satu dari sekian banyak novel yang telah ditulis Putu ― menyebut, Putu Wijaya adalah sebuah gumpalan. Barangkali hanya seorang di Indonesia, seniman yang di setiap kali muncul hampir selalu dalam keadaan seratus persen utuh, seratus persen spontan. 

Begitu pula dalam pertunjukkan Theater for Life: 100 Menit Monolog Putu Wijaya yang berlangsung di Gedung Serba Guna Universitas Katholik Parahyangan Bandung, 29 Mei 2007. Kali ini pun, Putu masih tetap mengejutkan, seperti juga ketika pertama kali saya menonton pertunjukkan monolognya, lebih dari 11 tahun yang lalu. (lagi…)

“Menjadi, atau Tidak Sama Sekali”

Oleh Moh. Syafari Firdaus

“Menjadi, atau tidak sama sekali. Itulah pertanyaannya.”

pementasan-hamlet.jpgHamlet sering disebut sebagai karya drama paling populer, paling panjang, dan sekaligus dinilai sebagai karya terbaik William Shakespeare. Naskah yang ditulis sekitar awal tahun 1600-an ini ditemukan beberapa versi, namun yang paling sering digunakan adalah versi quarto kedua (dipublikasikan 1604) dan folio pertama (dipublikasikan 1623). Bagi saya sendiri, Hamlet selalu menyusup menjadi sesuatu yang penuh teka-teki. Hamlet si peragu yang murung atau Ophelia yang depresif-melankolik-determinis, barangkali adalah sosok-sosok yang terlalu muram: mereka seperti berdiri di luar lingkaran semangat Renaisance yang menjadi suara zaman pada saat itu.

Pada konteks tertentu, Hamlet seolah bersisian dengan Dr. Faustus Chistopher Marlowe (ditulis sekitar 1592-1593), mengisi sisi ekstrim “otak kiri” dan “otak kanan” Renaisance: jika Faustus dengan penuh gelora begitu berani menggadaikan dirinya demi rahasia ilmu pengetahuan kepada Mephistophilis; Hamlet justru menenggelamkan dirinya dalam lautan melankoli, menebar kehampaan masa lalunya, terus diayun kebimbangan untuk “menjadi, atau tidak sama sekali.”

Yang kemudian terjadi pada keduanya―yang belajar di tempat yang sama, Universitas Wittenberg―adalah tragedi: Faustus lenyap ditelan kutuk atas gelora, hasrat, dan godaannya yang tak tertahankan; sedangkan Hamlet tidak pernah bisa “menjadi”, hanya ingin Horatio menceritakan kembali kisahnya sebagai penyaksi. (lagi…)