Generasi Baru, Estetika Baru?
Di awal tahun 1996, ketika memperingati 100 tahun perfilman dunia di Institut Kesenian Jakarta, Garin Nugroho sempat memprediksi, 6 tahun di depan (sekitar tahun 2002), ketika masyarakat Indonesia memasuki fase kedua perkembangan budaya pertelevisian, pada saat itu akan muncul generasi baru sineas Indonesia. Mereka akan melahirkan penciptaan-penciptaan alternatif tayangan televisi, yang akan bermuara ke arah bangkitnya perkembangan dunia perfilman nasional.
Prediksi Garin tersebut kiranya tidaklah terlalu meleset, meskipun tidak sepenuhnya pula tepat. Jika melihat dunia perfilman Indonesia hari ini, generasi baru sineas Indonesia itu memang boleh dipandang sudah muncul.
Akan tetapi, yang menjadi pertanyaannya, apakah kemunculan generasi baru sineas Indonesia itu diiringi pula dengan munculnya―sebut saja― “estetika baru” perfilman Indonesia? Atau, jangan-jangan, yang dimaksud dengan generasi baru sineas Indonesia itu sebenarnya tidak lebih hanya untuk menandai “pergantian antarwaktu” (yang tidak jauh beda dengan kondisi perfilman Indonesia di era 1980―1990-an), setelah sebelumnya perfilman Indonesia mengalami krisis berkepanjangan?