Apa Kabar Kesusastraan Indonesia?
Hiruk-pikuk: penuh hujatan dan caci maki. Demikian saya akan menyebut jika harus menjawab pertanyaan di atas tadi.
Betapa tidak, menyimak konstelasi kesusastraan kita hari ini, saya seperti tengah dihadapkan pada intrik-politik para pesakitan yang sama sekali tidak mencerdaskan. “Ode Kampung”, “Memo Indonesia”, sampai kasus di-“Salman Rusdhie”-kannya penyair Saeful Badar oleh DDII, boleh disebut sebagai pergunjingan yang nyinyir dan, lebih dari itu, sungguh memuakkan!
Mereka yang sengit bersitegang, sepertinya nyaris hanya menyusun dendam dan petaka: mereka seolah “menunjuk”, tapi tanpa berusaha “menunjukkannya”; mereka pun seakan “merujuk”, namun enggan pula untuk secara cermat “memeriksanya”. Sementara karya sastra, yang kerap disebut sebagai “buah pengalaman-kemanusiaan”, justru malah ditinggalkan untuk membangkai binasa.
Mereka, tak ada yang berani bahkan untuk sekadar meliriknya.
Agustus 20, 2007 at 10:00 am
Terus berjuang! Terus Berkarya! Masih gondrong? Hahaha. Sono euy.
Agustus 20, 2007 at 7:34 pm
Heuheu… Enya, sono, euy. Kumaha kabar Tasik ayeuna? Eh, ku bahasa Malayu weh nya…
Mudah-mudahan kasus Badar tidak berkelanjutan “secara fisikal”; meskipun kalau kata “PR”, kasusnya sudah selesai.
Namun, biarpun bagaimana, cara “PR” menutup kasus Badar itu bagi sungguh bukan sesuatu yang serta-merta bisa melegakan. “PR”, sebagai ruang publik yang sesungguhnya harus otonom, tampaknya masih “belum mau” mengambil sikap otonomnya itu. Terlebih, Badar sebagai penyair (dan juga dalam hal ini, Rahim Asyik sebagai redaktur Khazanah yang kini telah dicopot dari jabatannya), kiranya masih “mengambang” sebagai pihak yang nyaris tidak terlindungi.
Sebagai orang yang juga suka menulis di “PR”, ketidakterlindungan semacam ini (akibat “PR” yang tidak bisa mengambil sikap otonom itu) tentu saja sungguh sangat mencemaskan. Kasus yang terjadi pada Badar, di kemudian hari kiranya masih sangat mungkin akan terjadi pada siapa saja, termasuk pada diri saya.
Pada akhirnya, apa mau dikata, bye-bye “PR”, daripada besok lusa darah saya ada yang “menghalalkan”.